ENGLISHKITA Communication

Archive for February 2017

Belajar bahasa Inggris atau bahasa asing itu memang tak bisa sekejap, kalau mau betul2 cakap alias kompeten. Perlu berribukejap atau waktu yg banyak karena yang perlu dipelajari dan dikuasai juga banyak. Misalnya untuk menguasai kompetensi linguistiknya saja kita perlu mempelajari berribu aturan grammar atau tatabahasa, termasuk bagaimana menyusun kalimat dan memilih kata secara benar. Disamping itu, perlu juga memperhatikan pengucapan (pronunciation) dan intonasinya serta aksennya. Cukupkah sampai di sini? Ternyata tidak kan? Masih ada kompetensi2 lainnya yg juga perlu dipelajari. Misalnya, kompetensi sosiolinguistik, kompetensi strategi, dan kompetensi diskursus.

Seorang pembelajar bahasa Inggris sebenarnya dituntut juga untuk menguasai strategi berkomunikasi dan budayanya. Dua kompetensi ini akan melengkapi kompetensi linguistik sehingga kompetensi komunikasinya lebih lengkap. Dalam berkomunikasi, misalnya, bentuk linguistiknya bisa jadi sudah baik dan benar, tetapi ternyata secara sosiokultural pesannya kurang atau tidak tepat. Lalu, jika komunikasinya panjang dan banyak, kompetensi diskursus atau wacana sangat diperlukan agar pesan2nya koheren dan kohesif. Nah, ini tantangan yg tidak ringan.

Jadi, being linguistically competent is still far from enough. However, many English learners and teachers are obsessed with this competence alone …

Salam ENGLISHKITA,

Agus Satoto

Advertisements

Should We Share Learning Objectives With Pupils? via @TeacherToolkit

http://flip.it/zSs_CA

englishkitaikon

Dua kata yang saling terkait, terjalin erat. Masing-masing saling memengaruhi. Proses learning yang dilakukan secara efektif dan efisien tentu akan sangat berpengaruh positif kepada performingnya. Dalam proses belajar dan menggunakan bahasa Inggris juga demikian. Proses learning yang penuh dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat eskperimen dan eksploratif, baik yang dilakukan secara individu maupun kelompok, adalah masa dimana sang pembelajar mempersiapkan diri sebelum benar-benar melakukan (perform) tindakan berbahasa dalam situasi yang sebenarnya. Proses yang keliru dalam learning akan secara otomatis memengaruhi kualitas performancenya. Oleh karena itu, pihak guru atau pengajar harus betul-betul peka dan kreatif dalam mempersiapkan dan mengawasi proses ini. Demikian juga dengan sang pembelajar. Ia harus juga melakukan semua proses belajar secara sunggguh-sungguh sehingga ia betul-betul siap dan percaya diri ketika harus menggunakan bahasa Inggris di dalam situasi yang sebenarnya.

Secara kualitatif dan kuantitatif, baik learning maupun performing harus dilakukan dalam ukuran yang seimbang. Maksudnya, jangan kebanyakan learning tapi sedikit performing. Sebaliknya, tidak baik juga jika sedikit learning tetapi kebanyakan performing. Lakukanlah keduanya secara berimbang. Dalam belajar untuk memperbaiki kompetensi Speaking, misalnya. Hal-hal yang perlu dipelajari tidak harus semuanya berbentuk speaking atau berbicara. Pelajaran-pelajaran lainnya juga penting untuk dilakukan. Misalnya, belajar mendengarkan secara efektif, belajar membaca secara efektif, belajar menulis secara efektif, dan belajar hal-hal lain yang akan mendukung kompetensi Speakingnya. Belajar tentang bagaimana memulai pembicaraan, mengembangkan pembicaraan, dan mengakhiri pembicaran juga sangat penting untuk dikuasai. Kompetensi Menulis juga demikian. Latihan-latihannya bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja melalui kegiatan-kegiatan membaca, mendengarkan, dan berbicara …

Salam ENGLISHKITA,

Agus Satoto


Categories

February 2017
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728  

Blog Stats

  • 11,097 hits
Advertisements
%d bloggers like this: